Momentum Sumpah Pemuda : Dari Ruang Bima Sakti, Mimpi Besar LAPENKOP JATIM Mendunia

“Renungan Kepala LAPENKOP Wilayah Jawa Timur”

KOTA BATU, 28 Oktober 2026.

Malam semakin larut di Kota Batu. Udara dingin pegunungan menyelimuti kawasan Hotel Selecta. Namun, di tengah suasana malam itu, percakapan mengenai masa depan gerakan koperasi Indonesia justru terus menghangat.

Selasa malam, 27 Oktober 2026, sejumlah tenaga ahli dan pelatih senior Lembaga Pendidikan Perkoperasian (LAPENKOP) Jawa Timur berkumpul dalam sebuah Expert Meeting. Pertemuan yang berlangsung hingga dini hari tersebut bukan sekadar persiapan kegiatan esok pagi. Ada gagasan yang lebih besar sedang dirumuskan: bagaimana menjadikan LAPENKOP sebagai kekuatan utama pendidikan, transformasi, dan pengembangan ekosistem koperasi Indonesia.

Di tengah perubahan teknologi, persaingan bisnis, dan semakin terbukanya pasar global, gerakan koperasi menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Pendidikan perkoperasian tidak lagi cukup hanya menghasilkan peserta pelatihan yang memahami teori. Pendidikan harus mampu melahirkan pemimpin koperasi yang berintegritas, pengelola yang profesional, usaha yang inovatif, serta organisasi yang semakin mandiri.

Dari pemikiran itulah, sebuah perjalanan besar memperoleh momentumnya.

Malam Panjang Para Pemikir Koperasi

Empat tenaga ahli dengan latar keahlian berbeda hadir dalam pertemuan tersebut.

  1. Adri Syahrizal, Tenaga Ahli Bidang Ekosistem Bisnis Koperasi, membawa perspektif penguatan keterhubungan usaha, pengembangan model bisnis, dan peningkatan skala ekonomi koperasi.
  2. Setiawan Pandu, Tenaga Ahli Bidang Jati Diri Koperasi, menghadirkan perspektif fundamental bahwa transformasi koperasi harus tetap berpijak pada nilai, prinsip, dan tujuan koperasi sebagai perusahaan milik bersama.
  3. Krisna P.L., Tenaga Ahli Bidang Kerja Sama Internasional, memperluas cakrawala pembahasan mengenai peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia koperasi melalui jejaring global, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama lintas negara.
  4. Adi Sumunar, Tenaga Ahli Bidang Transformasi Digital, memperkuat gagasan pengembangan teknologi sebagai fondasi integrasi layanan pendidikan, kelembagaan, dan ekosistem bisnis koperasi.

Dua pelatih senior LAPENKOP Jawa Timur, Moh. Ashari dan Imam Suherdik, turut hadir membawa kekayaan pengalaman dalam pendidikan dan pendampingan koperasi.

Ekspert Meeting Malam

Pertemuan lintas keahlian itu memperlihatkan satu hal penting: masa depan koperasi tidak dapat dibangun secara parsial.

Penguatan jati diri harus berjalan bersama profesionalisme bisnis. Teknologi harus menjadi sarana memperluas manfaat. Pendidikan harus terhubung dengan kebutuhan usaha. Sementara jejaring internasional perlu membuka akses terhadap pengetahuan, pasar, dan peluang ekonomi baru.

LAPENKOP ditantang untuk tidak lagi sekadar menjadi penyelenggara pelatihan, tetapi berkembang menjadi pusat pengetahuan, pengembangan kepemimpinan, inovasi, dan penggerak ekosistem koperasi yang berdaya saing.

Diskusi panjang hingga dini hari itu menjadi salah satu bekal pemikiran strategis bagi Rapat Koordinasi Wilayah pada keesokan harinya.

Ruang Bima Sakti dan Semangat Sumpah Pemuda

Rabu, 28 Oktober 2026.

Ada daerah dengan jaringan koperasi yang besar, ada yang memiliki sumber daya pelatih yang kuat, dan ada pula yang masih harus memperkuat kelembagaan serta membangun kemandirian organisasi. Namun, perbedaan tersebut bukan alasan untuk bergerak sendiri-sendiri.

Dengan jaringan di 38 kabupaten dan kota, LAPENKOP Jawa Timur memiliki peluang membangun satu kekuatan pendidikan perkoperasian yang saling terhubung.

Setiap LAPENKOPDA didorong menjadi lembaga yang benar-benar aktif, memiliki legalitas kelembagaan yang jelas, tim kerja yang berkinerja, kantor dan layanan yang berfungsi, serta sumber pendapatan yang mampu menghidupi organisasi dan personelnya secara berkelanjutan.

Kemandirian menjadi syarat penting. Sebab, lembaga yang mengajarkan kemandirian kepada koperasi juga harus mampu membuktikan kemandiriannya sendiri.

Dana Abadi Rp1 Miliar: Membangun Kemandirian untuk Generasi Berikutnya

Salah satu agenda penting dalam arah pengembangan LAPENKOP Jawa Timur adalah membangun dana abadi kelembagaan sebesar Rp1 miliar. Gagasan ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap keberlanjutan organisasi.

LAPENKOP tidak boleh selamanya bergantung pada kegiatan pelatihan yang bersifat sesaat, dukungan proyek, atau sumber pendapatan yang tidak menentu.

Lembaga pendidikan membutuhkan fondasi keuangan yang kuat agar mampu terus mengembangkan kurikulum, meningkatkan kompetensi pelatih, membangun inovasi, dan memperluas layanan. Dana abadi Rp1 miliar direncanakan sebagai bagian dari penguatan aset produktif dan ketahanan keuangan jangka panjang.

Pembentukannya perlu didukung oleh pengelolaan surplus kegiatan, pengembangan usaha kelembagaan, serta sumber pendanaan lain yang sah dan berkelanjutan.

Dana tersebut diharapkan menjadi fondasi agar LAPENKOP memiliki kemampuan membiayai pengembangan kelembagaan secara lebih mandiri, dengan pengelolaan yang transparan, akuntabel, dan menjaga keberlanjutan nilai pokok dana.

Lebih dari sekadar target keuangan, dana abadi merupakan simbol tanggung jawab antargenerasi. Apa yang dibangun hari ini tidak boleh berhenti ketika kepengurusan berganti. Lembaga harus terus hidup, tumbuh, dan memberikan manfaat bagi generasi penggerak koperasi berikutnya.

Kampus Digital: Pendidikan Koperasi Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Perubahan besar lainnya adalah rencana pembangunan Kampus Digital LAPENKOP Jawa Timur. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan perkoperasian tidak dapat terus bergantung sepenuhnya pada ruang kelas konvensional.

Jawa Timur memiliki ribuan koperasi dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang beragam. Sementara itu, jangkauan pendidikan tatap muka memiliki keterbatasan waktu, biaya, dan wilayah.

Kampus Digital diharapkan menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Melalui kampus digital, pengurus, pengawas, pengelola, anggota, dan para pendamping koperasi dapat mengakses berbagai layanan pembelajaran secara lebih fleksibel.

Kurikulum berbasis kompetensi, kelas daring, pembelajaran mandiri, perpustakaan digital, asesmen, pendampingan, hingga pengembangan sertifikasi kompetensi dapat dibangun dalam satu lingkungan pembelajaran yang saling terhubung.

Kampus Digital juga diarahkan menjadi ruang pengembangan kapasitas para pelatih dan tenaga ahli LAPENKOP. Dengan demikian, kualitas pendidikan dapat terus ditingkatkan dan diperluas tanpa harus selalu bergantung pada penyelenggaraan pelatihan tatap muka.

Cita-citanya bukan sekadar memiliki platform pembelajaran daring, tetapi membangun pusat pengetahuan perkoperasian yang dapat menjadi rujukan nasional.

Satu Sistem Digital, Satu Ekosistem Koperasi yang Terintegrasi

Transformasi digital yang direncanakan LAPENKOP Jawa Timur tidak berhenti pada pembangunan kampus digital. Agenda yang lebih besar adalah mengembangkan satu sistem digital terintegrasi yang mampu menghubungkan layanan pendidikan, kelembagaan, pendampingan, dan pengembangan usaha koperasi.

Dalam ekosistem tersebut, koperasi diharapkan dapat mengakses berbagai layanan melalui satu sistem yang saling terhubung. Mulai dari pendaftaran pendidikan dan pelatihan, pengelolaan kompetensi, pendampingan organisasi dan usaha, layanan keanggotaan, hingga pengembangan jejaring bisnis antarkoperasi.

Integrasi ini juga membuka peluang pengembangan layanan digital bagi koperasi, termasuk dukungan administrasi, pengelolaan usaha, informasi pasar, dan kolaborasi bisnis.

Bagi LAPENKOPDA, sistem terintegrasi dapat menjadi instrumen untuk memperluas jangkauan layanan, meningkatkan efisiensi, serta mengembangkan sumber pendapatan baru.

Bagi koperasi, sistem tersebut diharapkan mempermudah akses terhadap pengetahuan, teknologi, pendampingan, dan peluang usaha. Dengan pendekatan ini, transformasi digital tidak dipahami sekadar sebagai proses memindahkan pekerjaan manual ke aplikasi.

Transformasi digital menjadi jalan untuk membangun ekosistem koperasi yang lebih kuat, efisien, terhubung, dan mampu menciptakan nilai ekonomi bersama.

Suasana Rakorwil tanggal 28 Oktober 2026

Membuka Gerbang Dunia: Dari Pengembangan SDM hingga Ekspor-Impor

Cita-cita LAPENKOP Jawa Timur untuk memiliki reputasi internasional juga diarahkan pada dua agenda besar yang saling melengkapi.

I. Membangun kerja sama internasional untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia koperasi.

Kerja sama ini diharapkan membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan kurikulum bersama, pelatihan internasional, penguatan kapasitas pelatih, studi praktik baik, serta kemitraan dengan lembaga pendidikan dan gerakan koperasi dari berbagai negara.

Pengalaman negara-negara yang memiliki gerakan koperasi maju dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat profesionalisme dan inovasi koperasi Indonesia. Sebaliknya, pengalaman dan praktik baik gerakan koperasi Indonesia juga memiliki peluang untuk diperkenalkan dalam jejaring internasional.

II. Mengembangkan kemitraan usaha berbasis ekspor dan impor untuk meningkatkan skala bisnis dan layanan koperasi.

Agenda ini menjadi langkah penting untuk menghubungkan pendidikan perkoperasian dengan pengembangan ekonomi yang lebih luas. Koperasi yang memiliki produk unggulan berpeluang didampingi untuk meningkatkan kualitas produksi, memenuhi standar pasar, membangun jejaring pemasaran, dan membuka akses ekspor.

Sementara itu, kemitraan impor yang sesuai kebutuhan dapat diarahkan untuk memperkuat akses koperasi terhadap bahan baku, teknologi, peralatan, atau produk strategis yang mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha.

Pengembangan kemitraan tersebut perlu dilakukan secara profesional, memperhatikan ketentuan perdagangan internasional, manajemen risiko, serta kepentingan ekonomi anggota koperasi.

Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi pelaku usaha yang bergerak dalam pasar lokal, tetapi secara bertahap dapat memperluas skala usaha melalui jejaring nasional dan global.

Di sinilah pendidikan dan bisnis bertemu.

LAPENKOP dapat mengambil peran sebagai pengembang kapasitas, penghubung kemitraan, dan pendamping transformasi usaha, sementara aktivitas perdagangan tetap dijalankan oleh koperasi dan mitra usaha sesuai kapasitas serta ketentuan yang berlaku.

Kualitas sumber daya manusia yang meningkat diharapkan berbanding lurus dengan kemampuan koperasi memperluas pasar dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi anggotanya.

Bukan Sekadar Pelatihan, tetapi Menghasilkan Perubahan. Seluruh agenda besar tersebut pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan mendasar: perubahan apa yang dapat dihasilkan oleh pendidikan perkoperasian?

Selama ini, keberhasilan pelatihan kerap diukur dari jumlah peserta, banyaknya kegiatan, atau sertifikat yang diterbitkan. Ukuran tersebut tetap diperlukan, tetapi belum cukup. Pendidikan yang berhasil seharusnya dapat dilihat dari perubahan nyata setelah peserta kembali ke koperasinya.

Apakah tata kelola menjadi lebih baik? Apakah pengurus semakin memahami tanggung jawabnya? Apakah pengawas mampu menjalankan fungsi pengawasan secara profesional? Apakah pengelola mampu meningkatkan kinerja usaha? Apakah anggota semakin merasakan manfaat koperasi?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlu menjadi ukuran keberhasilan pendidikan perkoperasian masa depan. Kampus Digital, ekosistem teknologi terintegrasi, pengembangan tenaga ahli, dana abadi, dan kemitraan global bukanlah tujuan akhir.

Semuanya merupakan instrumen untuk menghadirkan koperasi yang lebih sehat, mandiri, inovatif, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada anggota.

Semangat Muda untuk Gerakan yang Terus Bertumbuh

Ada kekuatan penting yang dimiliki gerakan koperasi Jawa Timur: pengalaman panjang para penggeraknya. Banyak pengurus, pelatih, dan aktivis koperasi telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk membangun organisasi dan mendampingi anggota.

Pengalaman itu merupakan kekayaan yang tidak ternilai. Namun, pengalaman akan menjadi semakin bermakna ketika dipertemukan dengan pengetahuan baru, teknologi, dan keberanian melakukan perubahan.

Transformasi bukan berarti meninggalkan nilai dan pengalaman masa lalu. Sebaliknya, transformasi yang kuat justru tumbuh dari kemampuan merawat jati diri sambil terus memperbarui cara bekerja.

Di sinilah momentum Sumpah Pemuda menemukan maknanya.

Semangat muda tidak semata-mata ditentukan oleh usia. Ia hadir pada siapa pun yang masih memiliki keberanian untuk belajar, berinovasi, bekerja sama, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik.

Bagi LAPENKOP Jawa Timur, semangat itulah yang harus terus hidup.

Dari Kota Batu, Menatap Indonesia dan Dunia

Menjelang berakhirnya Rakorwil, pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai. Rencana strategis harus diterjemahkan menjadi program nyata. Target dana abadi Rp1 miliar memerlukan langkah penghimpunan dan pengelolaan yang terukur. Kampus Digital harus diwujudkan melalui pembangunan sistem dan pengembangan konten pembelajaran yang berkualitas.

Ekosistem digital terintegrasi membutuhkan kolaborasi teknologi dan kesiapan kelembagaan. Kerja sama internasional perlu dibangun secara bertahap. Sementara peluang ekspor-impor harus dikembangkan berdasarkan kesiapan usaha, kebutuhan pasar, dan manfaat ekonomi bagi koperasi.

Semua itu memerlukan kepemimpinan, kedisiplinan, kolaborasi, serta kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Cita-cita menjadi pusat pendidikan perkoperasian nomor satu di Indonesia tentu tidak dapat diwujudkan hanya melalui satu rapat koordinasi.

Namun, setiap perjalanan besar selalu membutuhkan titik awal. Bagi LAPENKOP Jawa Timur, tanggal 28 Oktober 2026 di Kota Batu dapat menjadi salah satu tonggak penting perjalanan tersebut.

Sebuah pertemuan yang didahului diskusi para tenaga ahli hingga dini hari. Dilanjutkan konsolidasi para penggerak pendidikan perkoperasian dari berbagai daerah. Diselenggarakan tepat pada momentum ketika bangsa Indonesia mengenang keberanian para pemuda menyatukan cita-cita.

Di Ruang Bima Sakti, sebuah mimpi besar dirajut.

Mimpi tentang lembaga pendidikan koperasi yang mandiri secara finansial, unggul dalam kualitas pembelajaran, terdepan dalam transformasi digital, memiliki jejaring internasional, dan mampu menghubungkan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi koperasi.

Sembilan puluh delapan tahun setelah Sumpah Pemuda, tantangan bangsa telah berubah. Tetapi cita-cita membangun Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan sejahtera tetap relevan. Dan koperasi, melalui pendidikan yang berkualitas serta usaha yang terus berkembang, memiliki kesempatan besar untuk mengambil bagian dalam perjalanan tersebut.

Dari Kota Batu, LAPENKOP Jawa Timur ingin membuktikan bahwa pendidikan koperasi bukan sekadar tentang mengajarkan pengetahuan, tetapi tentang membangun manusia, memperkuat kelembagaan, membuka peluang ekonomi, dan menyiapkan masa depan gerakan koperasi Indonesia.

Sebab, kehebatan sebuah lembaga pendidikan pada akhirnya bukan diukur dari seberapa besar namanya dikenal, melainkan dari seberapa besar perubahan yang mampu dihadirkannya.

Dari Jawa Timur, untuk koperasi Indonesia yang mendunia.

 

Penulis: Moh Faishol Chusni

Kepala LAPENKOP Wilayah Jawa Timur

29 Oktober 2026

GERAKAN KOPERASI MENJAWAB TANTANGAN REGULASI; SEBUAH REFLEKSI DAN PENYIKAPAN

Sejak diterbitkannya UU No. 4 Tahun 2023 Tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan dan aturan turunannya Permenkop No. 8 Tahun 2023, dunia koperasi Indonesia dihadapkan pada pilihan fundamental (self declare): memilih status close loop atau bertransformasi menjadi open loop. Dalam konteks ini, koperasi perlu kembali menegaskan tujuan dasarnya yaitu berfokus pada kesejahteraan anggota sehingga sejatinya koperasi semua close loop kecuali non simpan pinjam, jika ada koperasi melayani non anggota maka sebenarnya jati diri koperasinya masih kurang kuat atau baiknya memilih badan hukum lainnya.

Moh Faishol Chusni Kepala Lembaga Pendidikan Perkoperasian (LAPENKOP) Wilayah Jawa Timur

Regulasi ini mengingatkan kita bahwa koperasi adalah entitas yang dinamis dan mampu beradaptasi. Apa pun pilihan yang diambil—close loop atau open loop—kuncinya adalah tetap berpegang pada nilai-nilai koperasi: keadilan, kesetiakawanan, dan kemandirian. Dengan semangat perbaikan dan inovasi, koperasi Indonesia dapat memperkuat jati dirinya sekaligus meraih posisi yang lebih strategis dalam perekonomian nasional.

Masalah menjadi muncul ketika koperasi mendeklarasikan close loop tapi hasil indikasinya malah keluar open loop sementara banyak yang tidak mengetahui masalahnya kenapa menjadi open loop. Kondisi inilah menimbulkan kekecewaan, kepanikan bahkan kemarahan. Berbagai regulasi terbaru dari usaha simpan pinjam ini dirasakakan memang sangat mengejutkan dan membuat sulit situasinya tetapi sebaiknya tidak perlu diratapi, mari hadapi dengan tegak kepala. Sembari terus sikap kritis kepada pemerintah dan membangun dialog konstruktif untuk memastikan kebijakan yang diambil mendukung ekosistem koperasi yang sehat, gerakan koperasi secara internal harus membuka diri untuk bertransformasi lebih visioner kedepan.

Melihat kondisi saat ini, diskursus, kekhawatiran dan ketidakjelasan menggelayut insan koperasi khususnya KSP/KSPPS dan USP/USPPS yang dinayatakan open loop. Untuk itu, Ijinkan kami melihat pada sudut pandang positif dan produktif, yaitu karena aturan ini sudah diterapkan (sembari mengawal RUU Perkoperasian) mari menjadikan situasi ini sebagai momentum berharga untuk introspeksi, perbaikan, dan pengembangan koperasi kedepan.

Bagi Koperasi yang memilih untuk tetap close loop tetapi terindikasi open loop masih memiliki waktu untuk memperkuat jati dirinya dan tata kelolanya setidaknya sampai dengan bulan Juni 2025 untuk melakukan perbaikan pada upaya :

1. Mengoptimalkan Keanggotaan

Pastikan keanggotaan tidak hanya formalitas, tetapi menjadi komunitas aktif yang saling mendukung. Dokumentasi keanggotaan harus dilakukan dengan rapi, jelas dan terverifikasi dokumennya dalam buku daftar anggota, antara lain:

  1. Anggotanya
  2. NIK KTP nya
  3. tanda tangan/cap jempolnya
  4. Tanggal masuknya
  5. Simpanan pokok dan wajib
  6. Daftar bukti penerimaan SHU nya
  7. Jika meminjam bukti pinjaman (nilai dan sisa pinjamannya)
  8. Jika perlu cantumkan pendidikan apa yang pernah diberikan koperasi kepada anggota

2. Memperbaiki Pola Usaha

Fokus pada kebutuhan anggota dan inovasi layanan untuk menjaga relevansi. Pastikan usaha yang dijalankan sebagai berikut:

  1. hanya fokus melayani anggota
  2. jika menggunakan aplikasi (software) sifatnya internal koperasi
  3. tidak berusaha dalam sektor jasa keuangan (asuransi, leasing, investasi dst)
  4. Pastikan koperasi sudah memiliki izin usaha simpan pinjam

3. Menguatkan Sumber Pembiayaan

Kembangkan sumber daya internal dan kelola dana dengan lebih profesional. Kita tunjukkan bahwa komposisi modal kita didominasi sumber internal bukan sumber luar

4. Menegakkan Prinsip Demokrasi

Tingkatkan partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan. Dorong anggota untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan aktivitas koperasi. Partisipasi ini menjadi elemen penting dalam mewujudkan pengelolaan koperasi yang demokratis dan akuntabel.

5. Pendidikan anggota yang kontinyu

Pendidikan anggota prinsip yang harus konsisten dilakukan untuk meningkatkan kapasitas SDM anggota dalam rangka menciptakan sense of belonging dan kesejahteraan bagi anggota. Proses pendidikan tidak hanya wajib, tetapi mutlak. Anggota harus memahami hak, kewajiban, dan manfaat menjadi bagian dari koperasi, sehingga tercipta keanggotaan yang aktif dan produktif. Jangan pernah menuntut anggota aktif dan produktif jika pendidikan anggota sebagai hak mereka tidak pernah diberikan. Ibarat kita menuntut anak kita pintar tapi orangtuanya tidak mau membiayai sekolah anak-anaknya.

Sedangkan bagi koperasi yang memilih open loop dengan kesadaran penuh, maka tentu ada tantangan dan peluang besar juga menanti. Dengan usaha yang lebih beragam pada sektor jasa keuangan serta berada di bawah pengawasan OJK, koperasi dapat menjangkau pasar lebih luas, meningkatkan kredibilitas, dan bersaing di sektor keuangan modern. Koperasi harus segera menyiapkan dirinya secara matang dalam aspek transparansi, manajemen risiko, dan inovasi produk keuangan yang mempunya daya saing dan layanan paripurna yang tinggi.

Insan Koperasi: Dilahirkan untuk Tangguh dan Pantang Menyerah

Sebenarnya para insan koperasi terkondisikan sebagai individu yang tangguh, yang selalu berpegang pada prinsip solidaritas dan kesetiakawanan. Karena niat awal ketika mendirikan koperasi adalah semangatnya adalah saling tolong menolong (mutual giving), sehingga di tengah tantangan ini, saya pastikan mereka tidak akan menyerah, melainkan bangkit dengan semangat baru untuk menjadikan koperasi sebagai tonggak kebangkitan ekonomi rakyat.

Untuk itu, Insan koperasi agar semakin kuat harus terus  menggalang kolaborasi antar sesama koperasi dan elemen gerakan koperasi lainnya maupun dengan stakeholder apapun. Kolaborasi ini menjadi faktor kunci dalam dunia modern untuk menghadapi persaingan global sekaligus membuktikan bahwa koperasi adalah kekuatan bersama yang matang dan mandiri. Jangan pernah merasa paling kuat paling hebat sendiri, karena sekuat apapun bisnis di zaman sekarang pasti memiliki titik tergantung pada lainnya.

Momentum untuk Bangkit

Hari-hari ini, pelaku koperasi sedang diuji sejarah. Apakah akan menjadi tonggak kebangkitan koperasi Indonesia yang baru, atau malah menjadi tonggak kemunduran? Jawabannya ada pada tekad, kerja keras, dan solidaritas kita bersama.

Gerakan koperasi tidak akan pernah menyerahkan nasib koperasi Indonesia kepada pihak lain. Mari kita berdiri tegak, menunjukkan kedewasaan dan kehebatan koperasi Indonesia dalam situasi apa pun. Dengan semangat perbaikan, inovasi, dan kolaborasi, mari kita jadikan koperasi sebagai kekuatan ekonomi yang digdaya dan berdaya saing tinggi. Sekali lagi, di tengah dinamika ini, koperasi perlu memandang regulasi (tanpa menghilangkan sikap kritis) apapun dampaknya sebagai pendorong transformasi, bukan sebagai hambatan. Demikianlah tekad gerakan koperasi Indonesia.

 

Ditulis oleh :

*Moh Faishol Chusni

Kepala Lembaga Pendidikan Perkoperasian (LAPENKOP) Wilayah Jawa Timur